Tips Cara Berbicara dengan Anak

Bunda mungkin sering kesal ketika dicuekin anak sewaktu Bunda mengajaknya berbicara. Memang butuh trik dan cara tersendiri dalam berbicara dengan anak.

Diajak bicara tak menoleh, bukan tanda anak Bunda tak tahu sopan santun. Di usia balita, perhatian mudah teralih dan anak belum paham dengan tata laksana berbicara dengan orang lain yang benar. Bunda perlu membuatnya menatap Bunda saat Bunda mengajaknya bicara.

berbicara dengan anak

Berbicara dengan anak

  1. Kontak mata.
    Bunda sering mendengar “bicara empat mata” yang artinya pembicaraan yang membutuhkan kontak mata yang kuat. Kontak mata sangat dibutuhkan ketika Bunda berbicara dengan anak. Kontak mata menandakan Bunda bersungguh-sungguh mengajaknya berbicara. Si kecil juga merasa dirinya dianggap sebagai orang penting bagi Bunda. Bukan hanya kalimat menegur atau perintah yang membutuhkan kontak mata dengan anak, dialog sederhana juga membutuhkan kontak mata.
  2. Minta untuk menatap.
    Setiap anak terlihat tidak mendengar perkataan Bunda, ulangi terus. Jika tetap  tampak tidak mendengar, segera minta dia untuk menatap Bunda. “Adik, lihat Bunda dong. Bunda sedang bicara dengan adik, lho!” Katakan dengan nada  halus agar si kecil tidak merasa diintimidasi. Permintaan untuk menatap ini menjadi salah satu cara belajar anak, bahwa berbicara dengan orang lain harus dengan cara menatap lawan bicaranya.
  3. Posisi badan sejajar.
    Posisikan badan Bunda sejajar dengan tinggi badan anak dengan jarak tidak  terlalu jauh. Posisi seperti ini membantu anak fokus pada Bunda. Ia dapat menangkap pesan yang Bunda berikan dan berdialog dengan Bunda. Ketika si kecil  masih terlihat tidak menoleh atau memerhatikan Bunda, sentuh pundaknya sebagai bentuk meminta perhatiannya. Bila jarak Bunda dan si kecil jauh, Bunda akan kesulitan untuk menyentuhnya, bahkan ia bisa merasa Bunda tidak menganggapnya sebagai lawan bicara yang penting, begitu juga dengan pesan yang Bunda sampaikan.
  4. Beri penjelasan.
    “Nak, lihat Bunda dong kalau diajak bicara!” Bunda sering mengucapkan kalimat ini ketika si kecil tak juga memerhatikan Bunda. Berhasil? Tidak selalu! Ia bosan mengapa harus menatap Bunda ketika berbicara dengan Bunda. Dia tidak tahu kenapa itu harus dilakukannya. Bunda perlu memberikan penjelasan mengapa Bunda mengharapkan si kecil menatap Bunda. Lengkapi kalimat “Lihat, Bunda dong” dengan “Lihat Bunda dong, karena kamu perlu melihat ini adalah mainan yang harus kamu bereskan.” Jelaskan pula bahwa menatap orang yang sedang berbicara merupakan bentuk penghargaan dan bersikap santun kepada orang tersebut.
  5. Ketahui kemampuan pemahaman anak.
    Setiap anak punya kemampuan pemahaman yang berbeda-beda. Ada yang sudah paham bila Bunda bertanya “Alasan apa yang membuat kamu melakukan itu?” Namun, ada juga yang baru bisa paham bila Bunda bertanya “Adik, Bunda ingin bertanya, kamu tadi kenapa membuang gelas-gelas itu?” Alasan anak tidak menatap Bunda ketika diajak berbicara, bisa saja karena dia tidak paham kepada siapa Bunda bicara dan Bunda bicara tentang apa. Gunakan kalimat pendek, dan sederhana sebab kemampuan konsentrasi anak usia 2-3 tahun masih belum berkembang sempurna.
  6. Beri contoh.
    Mengajarkan bagaimana mendengarkan dan menatap si pembicara butuh contoh konkret. Jika anak merasa didengar dan ditatap ketika sedang berbicara, ia akan menyerap dan meniru bagaimana menjadi pendengar yang baik atau merespons sumber pembicara.
  7. Minta tolong.
    Percaya dengan salah satu dari 6 huruf ajaib, “TOLONG”? Coba, katakan “Tolong…” ketika berbicara pada anak sebelum mengemukakan kalimat perintah. Si kecil niscaya tidak merasa dipaksa dan diperintah sehingga ia tidak lagi mengulang perilaku tidak mau melihat, sebagai bentuk atau cara pura-pura tidak mendengar ucapan Bunda. Cara ini sekaligus mengajarkan anak bagaimana bersikap santun.
  8. Cari perhatian anak.
    Kemampuan si kecil tentang pemahaman dan tingkat konsentrasi yang belum sempurna mengharuskan Bunda selalu mencari perhatian anak. Satu kali dipanggil tidak menengok, dua kali dan ketiga kali masih juga belum menengok ke arah Bunda, segera cari perhatiannya, misalnya dengan menghampiri kemudian menyodorkannya satu barang yang membuat si kecil tertarik berbicara dengan Bunda. Meski begitu hati-hati, jangan sampai barang tersebut malah terlalu mengalihkan perhatiannya. Jika ini terjadi, langsung jauhi barang tersebut.
  9. Pilih momen.
    Menunggu momen yang tepat untuk berbicara dengan orang lain, termasuk si kecil, merupakan cara yang jitu. Orang dewasa saja tidak mau diganggu bila sedang asyik dengan aktivitasnya, begitu juga anak. Jika Bunda bisa menunggu dia hingga tidak terlalu sibuk, mengapa tak menunggu? Kalau anak sudah selesai dengan aktivitasnya, mudah untuk Bunda mengajaknya berbicara berhadapan. Untuk mengetahui, mulailah pendekatan terlebih dahulu sebagai bentuk interupsi. Cara ini membuat anak memiliki persiapan untuk menghentikan aktivitasnya.
  10. Bermain peran berbicara dengan orang lain.
    Bisa jadi anak tidak paham bagaimana memperlakukan lawan bicaranya. Dia sebenarnya mengerti apa yang Bunda bicarakan, dia juga mau melakukan apa yang Bunda minta. Ajarkan cara berbicara pada orang lain dengan mengajaknya bermain peran. Gunakan boneka-boneka milik anak. Berikan peran kepada masing-masing boneka. Posisikan wajah boneka berhadap-hadapan ketika sedang berbicara agar si kecil tahu begitulah sikap yang baik ketika berbicara dengan orang lain.  

Semoga tips-tips di atas bisa membantu Bunda dalam membangun komunikasi dengan cara berbicara dengan anak.

Tags:  , , , ,
Ibu Rumah Tangga Berpenghasilan 8 juta lebih per bulan

Leave a reply


Silahkan ketikkan kode di atas, terima kasih!

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>